GLOBALBANTEN.COM, Tangerang | Kisah pilu menyelimuti seorang janda yang tengah berjuang melawan sakit parah usai menjalani perawatan di Ciputra Hospital CitraRaya, Kabupaten Tangerang. Akibat ketidaktahuan prosedur administrasi di saat situasi darurat, keluarga pasien sempat didera kepanikan luar biasa setelah dibayangi tagihan pengobatan yang membengkak hingga puluhan juta rupiah.
Peristiwa ini bermula pada Selasa (26/05/2026), saat pasien dilarikan ke rumah sakit oleh anaknya dalam kondisi kritis. Di tengah situasi panik, pihak keluarga baru menyadari bahwa kartu BPJS Kesehatan milik pasien telah hilang.
Saat proses pendaftaran, petugas rumah sakit menanyakan metode pembayaran. Sang anak yang awam akan regulasi jaminan kesehatan, mengira pengobatan akan tetap gratis dan menyetujui opsi pasien umum/pribadi.
“Waktu di pendaftaran saya ditanya soal BPJS. Saya jawab kartunya hilang. Terus ditanya lagi mau pribadi atau tidak. Saya bilang iya karena saya nggak ngerti, saya kira tetap gratis. Saya langsung tanda tangan saja,” ujar C, anak pasien, dengan nada penyesalan saat memberikan keterangan kepada awak media.
Jual Motor hingga Berutang Demi Tebus Biaya RS
Niat hati ingin menyelamatkan nyawa sang ibu, petaka finansial justru menghantam keluarga miskin ini. Setelah menjalani perawatan intensif selama tujuh hari, pihak keluarga syok bukan main mendapati tagihan rumah sakit yang meroket hingga lebih dari Rp50 juta.
Sebagai tulang punggung keluarga yang hanya mengandalkan penghasilan harian, C terpaksa melakukan segala cara demi melunasi biaya tersebut, termasuk menjual satu-satunya kendaraan yang ia miliki.
“Saya langsung diminta bayar deposit Rp12 juta. Karena panik saya pinjam uang sana-sini sampai motor saya jual juga. Setelah beberapa hari saya ditagih lagi. Total uang yang sudah masuk sekitar Rp28 juta. Tapi pas dipanggil lagi ternyata total semuanya lebih dari Rp50 juta. Saya sampai nangis, mau cari uang dari mana lagi buat nutup sisa Rp22 juta,” ungkap C berderai air mata.
Mediasi Alot, Berakhir Damai Setelah Disorot Media
Menghadapi jalan buntu dan utang yang kian menumpuk, keluarga pasien akhirnya meminta bantuan kepada seorang kader sosial yang juga merupakan Ibu RW setempat. Kader tersebut langsung turun tangan mendatangi pihak rumah sakit untuk mencari solusi kemanusiaan agar pasien diizinkan pulang.
Meski upaya mediasi awal sempat berjalan alot dan belum membuahkan hasil, situasi berubah setelah kader sosial memutuskan untuk menghubungi awak media guna membantu proses konfirmasi dan mengawal kasus ini.
Tak lama setelah jurnalis mendatangi lokasi, pihak rumah sakit langsung memanggil kembali keluarga pasien yang didampingi kader untuk menandatangani surat perjanjian. Lewat kesepakatan tersebut, pihak Ciputra Hospital akhirnya memperbolehkan pasien pulang, dan sisa biaya pengobatan sebesar Rp22 juta diputuskan tidak lagi dibebankan kepada keluarga pasien.(red)


Tinggalkan Balasan