Wacana Soeharto Jadi Pahlawan Nasional Menguat, Pengamat: Kita Perlu Dewasa Membaca Sejarah

Sabtu, 8 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GLOBALBANTEN.COM, Jakarta | Wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, H.M. Soeharto, kembali menjadi perbincangan hangat. Di ruang publik, respons terbelah. Sebagian melihat Soeharto sebagai sosok yang membangun fondasi ekonomi Indonesia, sementara sebagian lainnya masih mengingat ketatnya kehidupan politik di era Orde Baru.

Peneliti sekaligus Direktur Komunikasi dan Jaringan INSS, Afri Darmawan, menilai bahwa diskusi ini penting, tetapi harus dilakukan dengan perspektif sejarah yang utuh.

“Kita ini kadang ingin sejarah itu hitam-putih. Padahal tokoh sebesar Soeharto tidak bisa dibaca dengan cara sesederhana itu. Ia hadir pada situasi negara yang hampir runtuh, dan keputusan-keputusan yang ia ambil tidak bisa dilepaskan dari konteks waktu itu,” ujar Afri, Sabtu (8/11).

Afri menegaskan bahwa fondasi pembangunan Indonesia modern tidak bisa dilepaskan dari era Soeharto. Ia menyebut beberapa capaian konkret: Repelita sebagai arah pembangunan jangka panjang, program SD Inpres yang membuat pendidikan dasar menjangkau desa-desa, pembangunan jaringan irigasi dan infrastruktur, serta swasembada beras 1984 yang diakui FAO. Dalam rentang 1976–1996, angka kemiskinan turun sekitar 31,7 juta jiwa—penurunan tercepat dalam sejarah Indonesia.

Baca Juga :  Dukung Anies Baswedan, Forum Ulama dan Habaib: Kami Tak Ingin Beli Kucing dalam Karung

“Fakta-fakta ini nyata. Kita masih menikmati hasilnya sampai hari ini—dari Puskesmas sampai jalan desa. Tidak mengakuinya hanya karena ada sisi gelap Orde Baru jelas tidak adil,” kata Afri.

Meski demikian, ia mengakui bahwa pembatasan kebebasan politik pada masa tersebut tetap menjadi bagian yang perlu dievaluasi secara kritis.

“Kritik pada Orde Baru tetap sah. Tapi menghapus jasa pembangunan hanya karena ada kesalahan di bidang politik adalah bentuk ketidakdewasaan kita dalam membaca sejarah,” tambahnya.

Baca Juga :  Pelantikan Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan Bali, Jaksa Agung ST Burhanuddin: Netralitas ASN Kejaksaan Adalah Harga Mati!

Menurut Afri, perdebatan mengenai gelar Pahlawan Nasional bagi Soeharto sebenarnya merupakan ujian kedewasaan bangsa. Ia menilai bahwa bangsa Indonesia harus berani menerima bahwa sejarah selalu membawa dua wajah: capaian dan kekurangan.

Sebagai penutup, Afri menyampaikan bahwa perbincangan ini seharusnya tidak diarahkan pada pertentangan emosional, melainkan pada pemahaman yang proporsional dan berdasar.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil pelajaran dan menjadikannya pijakan untuk masa depan. Itu yang menunjukkan kedewasaan sebuah bangsa,” tutupnya.

Berita Terkait

Integrasi Dua Program, Prabowo-Gibran Bangkitkan Ekonomi Lokal
Sahabat Presisi Apresiasi Survei Kompas, Bukti Reformasi Polri Makin Dirasakan Publik
Soeharto Resmi Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, Bentuk Apresiasi Sebagai Bapak Pembangunan
Tokoh Muhammadiyah dan NU: Soeharto & Gus Dur Pahlawan Keteladanan Pemimpin Bangsa
Warisan Pembangunan dan Fondasi Ekonomi Kuat, Soeharto Layak Sandang Gelar Pahlawan Nasional
Momentum Hari Pahlawan, Tokoh Bangsa Dorong Soeharto Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Dari Kontroversi Aqua, Terbitlah Maklumat Salemba 2025
Dari Lembah Tidar, AMKI dan Akmil Gaungkan Semangat Kebangsaan di Ruang Digital

Berita Terkait

Sabtu, 15 November 2025 - 20:59 WIB

Integrasi Dua Program, Prabowo-Gibran Bangkitkan Ekonomi Lokal

Jumat, 14 November 2025 - 15:05 WIB

Sahabat Presisi Apresiasi Survei Kompas, Bukti Reformasi Polri Makin Dirasakan Publik

Senin, 10 November 2025 - 16:26 WIB

Soeharto Resmi Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, Bentuk Apresiasi Sebagai Bapak Pembangunan

Minggu, 9 November 2025 - 22:51 WIB

Tokoh Muhammadiyah dan NU: Soeharto & Gus Dur Pahlawan Keteladanan Pemimpin Bangsa

Sabtu, 8 November 2025 - 16:18 WIB

Wacana Soeharto Jadi Pahlawan Nasional Menguat, Pengamat: Kita Perlu Dewasa Membaca Sejarah

Berita Terbaru