GLOBALBANTEN.COM | Ribuan warga Pantura turun ke jalan menuntut mobil bermuatan tanah sumbu tiga tidak melintas di luar jam operasional Aksi protes ini dipicu oleh meningkatnya jumlah truk yang melintas di jalur Pantura pada jam-jam sibuk, menyebabkan banyaknya korban jiwa terutama anak anak yang hendak sekolah dan membuat kemacetan dan membahayakan keselamatan warga yang berlalu-lalang, terutama pelajar yang pulang dan pergi sekolah.” Kamis, 07/11/2024.

Baca Juga :  Akses Jalan Cisoka-Adiyasa Rusak Parah Potensi Terjadi Lakalantas Berkepanjangan

Menurutnya Kemarahan warga Teluknaga di akibatkan adanya anak sekolah dasar yang menjadi korban, ini sudah keterlaluan truk tanah sumbu tiga masih tetap beroperasi di pagi dan siang hari

Selain itu, jalan yang dilalui truk-truk berat tersebut cepat rusak, berlubang, dan semakin membahayakan pengendara, terutama pengendara sepeda motor. Tidak jarang terjadi kecelakaan akibat truk tanah,” Ucap warga Pantura Inisial OP

Baca Juga :  Desakan Keras FMBT: Usut Tuntas Penyelewengan Dana BOS Rp 10,6 Miliar di Banten!

Ditempat yang sama Salah satu warga, Ahmad, menyampaikan keresahannya. “Kami setiap hari melihat truk-truk tanah ini selain merusak jalan dan juga mengganggu aktivitas kami, Anak-anak kami yang pergi atau pulang sekolah pun terancam keselamatannya,” katanya.

Dalam aksi ini, warga mendesak pihak pemerintah daerah dan dinas terkait untuk segera mengambil langkah tegas, seperti diberlakukan jam operasional khusus bagi truk tanah agar hanya melintas pada malam hari.

Baca Juga :  Dalam Rangka Kesiapan Dalam Menyukseskan Pemilu 2024, Kejaksaan Kota Tangerang Gelar Apel Siaga

Kami dan Warga yang lain berharap operasional jam operasional ini dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan.

Aksi warga Pantura turun ke jalan hari ini menunjukkan bahwa keselamatan di jalan, adalah hak bersama yang harus dijaga, terutama bagi wilayah Kosambi dan teluknaga.

(Dw)