Globalbanten.com, Jakarta | Di media sosial seperti Twitter hingga Youtube, beredar potongan video hoax yang menampakkan Presiden Jokowi sedang berpidato dalam berbahasa Mandarin. Masyarakat diminta untuk tidak terprovokasi

Pakar Komunikasi Emrus Sihombing, menyebut pihak yang membuat video tersebut memiliki kepentingan motif tertentu.

Emrus menjelaskan bahwa dirinya mendapat dua link medsos terkait video tersebut.

“Saya, Emrus Sihombing mendapat dua link sosial media yang tampaknya pidato bapak Presiden dalam suatu pertemuan bisnis, satu dalam bahasa Inggris dan satu dalam bahasa Mandarin,” jelas Emrus.

Baca Juga :  Al Muktabar Penuhi Panggilan Bawaslu, Soal Dugaan Netralitas

Menurutnya, pidato yang disampaikan dengan bahasa Asing, kalaupun ada terjemahannya adalah dalam bentuk teks atau kalimat dibawahnya sehingga penonton bisa sekaligus mengontrol baik lisan maupun tulisannya.

“Jika video pidato berbahasa Mandarin, mestinya perlu teks alih bahasa bagi penonton untuk mengontrol makna pidato lisan,” ujarnya.

Baca Juga :  Forkopimda Kabupaten Tangerang Siap Amankan Pemilu 2024, Tim Kesehatan 24 Jam Standbye Di Hari Pencoblosan

Dirinya menegaskan bahwa instansi terkait, yakni Kemenkominfo agar bisa langsung menindak video yang menggunakan suara Jokowi sehingga seolah-seolah memperlihatkan Presiden Jokowi sebagai bagian dari kepentinan ekonomi Tiongkok. Padahal video tersebut tidaklah benar.

“Video ini seharusnya segera di takedown oleh Kemenkominfo atau secara masif menjelaskan hal itu ke ruang publik,” ungkap Komunikolog Universitas Pelita Harapan ini..

Baca Juga :  Pemerintah Tegaskan Pengibaran Bendera One Piece Sebagai Pelanggaran Pidana terhadap Simbol Negara

Video hoax yang beredar tersebut merupakan hasil editing dari video pidato Presiden Jokowi saat Gala Dinner di Amerika Serikat tahun 2015.

Dengan bantuan Artificial Intelligence atau AI, maka dibuat menjadi Presiden Jokowi melakukan pidato dengan menggunakan bahasa Mandarin dengan lancar.

Publik diharapkan agar bijak dan tidak mentah-mentah termakan informasi hoax atau palsu.

Ayo terapkan “Saring dulu sebelum Sharing”