Profil Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Surya Pembawa Kesuksesan Kesultanan Banten

Jumat, 18 Agustus 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sultan Ageng Tirtayasa (Alchetron)

Sultan Ageng Tirtayasa (Alchetron)

TANGERANG – Sultan Ageng Tirtayasa merupakan pahlawan nasional dari kesultanan Banten. Gelar pahlawan Indonesia atau pahlawan nasional diberikan oleh pemerintah Indonesia untuk mengakui tindakan yang berdampak nyata dan menginspirasi masyarakat Indonesia.

Untuk dapat disebut sebagai Pahlawan Indonesia atau mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, seseorang harus memenuhi beberapa kriteria yang telah ditetapkan.

Pertama, mereka harus berperan aktif dalam perjuangan bersenjata atau perjuangan politik yang berkaitan dengan kemerdekaan dan persatuan bangsa. Selain itu, mereka juga harus mampu memunculkan ide atau pemikiran yang mendukung pembangunan bangsa dan negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pahlawan Indonesia juga harus memiliki karya besar yang bermanfaat bagi masyarakat secara luas atau mengangkat martabat bangsa, yang juga menjadi syarat penting dalam penilaian ini. Salah satu putra daerah yang sudah menyandang sebagai pahlawan nasional adalah Sultan Ageng Tirtayasa.

Dari informasi yang dilansir Liputan6.com, Sultan Ageng Tirtayasa lahir pada tahun 1631 di Banten dan memiliki nama asli Abdul Fattah atau Abu al-Fath Abdulfattah. Beliau merupakan keturunan asli kesultanan Banten yang merupakan anak dari Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad yang merupakan sultan Banten serta ibunya bernama Ratu Martakusuma.

Baca Juga :  Antisipasi Tawuran, SOTR hingga Gangguan Kamtibmas, Polres Metro Tangerang Kota Dirikan 26 Pos Pantau, Ini Lokasinya

Sultan Ageng Tirtayasa lahir dengan nama Pangeran Surya. Nama tersebut diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya “matahari terbit”. Sedangkan, nama Tirta sendiri memiliki arti air dan Yasa berarti merencanakan, Tirtayasa berarti merencanakan atau membangun pengairan untuk keperluan pertanian maupun pertahanan. Beliau mendapatkan julukan Ageng Tirtayasa berasal sejak ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa.

Sistem Pemerintah dan Masa Kejayaan

Sultan Ageng Tirtayasa menjadi sultan pada tahun 1651. Saat itu, beliau masih berumur 20 tahun menggantikan kakeknya yang meninggal pada tahun yang sama. Pemindahan kekuasaan ini dikarenakan ayah Sultan Ageng Tirtayasa tidak dapat mengantikan karena telah wafat sebelum wafatnya sang kakek.

Pada masa pemerintahannya, perekonomian kesultanan Banten berada dipuncak kejayaannya. Salah satu terobosan ekonomi yang dilakukan Sultan Ageng Tirtayasa adalah pengenaan cukai terhadap kapal yang singgah di Banten. Pemungutan cukai yang dilakukan Syahbandar ini berada di kawasan yang dikenal dengan Bea Cukai.

Selain memungut cukai, perdagangan dan pertanian juga menjadi salah satu penopang perekonomian Kerajaan Banten. Berawal dari ekonomi rakyat pedalaman yang ditopang oleh kegiatan pertanian, Sultan Ageng Tirtayasa menrencanakan proyek irigasi besar untuk mengembangkan pertanian rakyat.Tak hanya itu, Tirtayasa juga dikenal sebagai ahli strategi perang yang terpercaya. Hal itu terbukti saat dirinya menjadi putra mahkota. Dialah yang mengatur perang gerilya melawan posisi Belanda di Batavia. 

Baca Juga :  Tak Hanya Pemprov DKI, ASN Kementerian Juga WFH Besok

Sistem Pemerintah dan Masa Kejayaan

Sultan Ageng Tirtayasa memerintah para prajurit berkumpul di rumah Mangkubumi di Kemuning seberang sungai untuk melaporkan keadaan di daerah masing-masing.

Kemudian, setelah itu para petinggi keraton juga dibawa menemui raja di Keraton Surosowan untuk menerima petunjuk dan pesan untuk disampaikan kepada rakyat di daerahnya.

Demikian pula pengelolaan dan pembinaan angkatan bersenjata juga dipercayakan kepada Mangkubumi dan Pangeran Madura yang bertugas mengatur dan mengawasi prajurit Banten.

Adapun senjata perang, seperti senapan, meriam, keris dan tombak, ada yang bisa dibuat sendiri, ada pula yang dibeli dari Batavia dan daerah lain.

Pusat pemerintahan Kerajaan Banten terletak di antara sungai Ci Banten dan Ci Karangantu. Sekarang lokasinya di Surosowan, Banten Lama, Kota Serang. Tak hanya keraton, di sekitar kawasan juga terdapat pasar, alun-alun dan masjid besar Banten dengan mercusuar yang konon berfungsi sebagai menara pengawas untuk mengamati kedatangan kapal di Banten.

Baca Juga :  Jambret di Menteng Bikin Pesepeda Tersungkur Dibekuk Polisi

Wafatnya Sultan Ageng Tirtayasa

Pada masa pemerintahannya di Banten, Sultan Ageng Tirtayasa membangun armada laut serta menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara asing dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia

Sultan Ageng Tirtayasa memimpin perlawanan besar melawan Belanda. Saat itu VOC mengadakan perjanjian eksklusivitas komersial yang merugikan Kesultanan Banten.

Tirtayasa kemudian menolak kesepakatan itu dan mengubah Banten menjadi pelabuhan terbuka. Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin menjadikan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar di Nusantara.

Ketika situasi konflik memanas, Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan Sultan Haji untuk memimpin urusan dalam negeri Banten pada tahun 1671. Namun, hal-hal yang berkaitan dengan urusan luar negeri adalah pekerjaan Sultan Ageng Tirtayasa sendiri.

Pengangkatan Sultan Haji menguntungkan Belanda. Belanda kemudian turun tangan dengan bergabung bersama Sultan Haji untuk menggulingkan Sultan Ageng Tirtayasa dengan teknik adu domba. Dengan dukungan Belanda, Sultan Haji secara efektif menguasai Banten dan menjadi sultan di Keraton Surosowan pada tahun 1681.

Berita Terkait

Gak Punya Otak, Sudah langgar Perbup Dump Truk Angkutan Tanah Merah Oprasi di Saat Jalan Kodisi Macet
Ketua Lembaga Aliansi Indonesia Kritik Rencana Studi Tour SDN 1 Mekar Agung
IndexPolitica Rilis 3 Nama Bacabup Paling Populer pada Pilkada Kabupaten Tangerang 2024
Lontarkan Kata-kata Yang Tidak Elok Saat Warga Terkena Banjir, Ahmad Suhud : Lurah Binong Dinilai Arogan
Bersurat Ke Pengusaha Se-Banten, Apindo Lakukan Pendataan Industri Terdampak Kebijakan PGN
Adanya modus baru Mafia Penimbun Solar Ilegal mengunakan jerigen di atas bak mobil Dump truck
Tragedi di Kampung Cigarukgak: Pasutri Lansia Ditemukan Meninggal Dunia
Pemuda Batak Bersatu Sibolga -Tapteng Hadiri Pernikahan Adinda Sari Surbakti Sp. Dengan Adi Pradinata Tarigan S.lP

Berita Terkait

Senin, 3 Juni 2024 - 18:04 WIB

Gak Punya Otak, Sudah langgar Perbup Dump Truk Angkutan Tanah Merah Oprasi di Saat Jalan Kodisi Macet

Rabu, 15 Mei 2024 - 21:34 WIB

Ketua Lembaga Aliansi Indonesia Kritik Rencana Studi Tour SDN 1 Mekar Agung

Rabu, 15 Mei 2024 - 12:36 WIB

IndexPolitica Rilis 3 Nama Bacabup Paling Populer pada Pilkada Kabupaten Tangerang 2024

Minggu, 28 April 2024 - 14:37 WIB

Lontarkan Kata-kata Yang Tidak Elok Saat Warga Terkena Banjir, Ahmad Suhud : Lurah Binong Dinilai Arogan

Sabtu, 27 April 2024 - 12:06 WIB

Bersurat Ke Pengusaha Se-Banten, Apindo Lakukan Pendataan Industri Terdampak Kebijakan PGN

Rabu, 17 April 2024 - 07:16 WIB

Adanya modus baru Mafia Penimbun Solar Ilegal mengunakan jerigen di atas bak mobil Dump truck

Selasa, 26 Maret 2024 - 07:12 WIB

Tragedi di Kampung Cigarukgak: Pasutri Lansia Ditemukan Meninggal Dunia

Rabu, 6 Maret 2024 - 19:49 WIB

Pemuda Batak Bersatu Sibolga -Tapteng Hadiri Pernikahan Adinda Sari Surbakti Sp. Dengan Adi Pradinata Tarigan S.lP

Berita Terbaru